Laman

Senin, 01 September 2014

Seberkas Asa

       Di keremangan senja, tubuhku masih berbalut selimut. Udara di luar rumah terasa menggigit kulit. Mungkin karena aku membiarkan sepasang daun jendela di kamarku terbuka. Ibuku sudah berisik di dapur. Aku meilirik sebuah jam di meja. Sudah pukul lima pagi rupanya.

       Aku beringsut ke kamar mandi. Bersiap berangkat ke sekolah. Hari ini, senin pagi. Rintik-rintik dari awan menghalangi kami untuk upacara bendera nampaknya. Segera aku selesaikan mandiku dan bergegas shalat subuh.
       
       Seusai shalat, rasanya jiwaku tenteram sekali. Semangatku bangkit, aku segera menghampiri ayah untuk mengantarku ke sekolah. Seperti biasa, beliau tiap hari mengantarkan aku ke sekolah dengan motornya yang sudah cukup berusai. Beliau selalu berpesan agar aku focus belajar di kelas XII ini dan mendapatkan nilai terbaik.

       Singkat cerita, setelah seharian menimba ilmu di sekolah. Aku tiba di rumah, lalu membereskan pekerjaan rumah yang menumpuk. Tiba-tiba telepon genggamku bordering. Tertera nama seorang teman lelakiku. Dia mengantakan hendak berkunjung ke rumahku.

       Sejam kemudian, terdengar suara kendaraan bermotor di depan rumahku. Ternyata dia sudah berdiri tepat di depan pintu dan akupun segera membukakannya. Kami kemudian berbincang-bincang. Ada satu hal yang sangat mengejutkanku.

       Tiba-tiba saja, dia menatapku lekat-lekat. Dia menggenggam kedua tanganku. Suasana sangat hening. Bibirnya yang kelu membuatnya terbata-bata untuk bicara. Dia mengatakan bahwa dia menyukaiku. Dia menyayangiku sangat tulus, ungkapnya.

       Aku diam terpaku seribu bahasa. Hatiku diam, bingung mau menjawab apa. Aku ‘tak menyangka dia menganggap cukup jauh mengenai kedekatan kami beberapa waktu belakangan ini. Memang, akhir-akhir ini kami cukup sering berkomunikasi. Kami bercanda ria serta sharing  berbagai cerita yang menghiasi hari-hari kami.

       Tetapi tetap saja, aku ‘tak menganggap hal itu sebagai kedekatan yang lebih dari pertemanan. Aku lebih senang jika dia dan aku berteman baik. Lalu ‘ku tarik nafas dalam-dalam. Akupun melepaskan genggamannya.

      Aku menatapnya lirih, dengan sangat merasa bersalah ku ucapkan, “maafkan aku, sepertinya kita belum pantas untuk lebih dari sekedar teman”, jawabku lirih. Matanya sayu, menyimpan airmata yang tertahan gengsi. Lalu dia bergegas pergi dan meninggalkanku.


10 komentar:

  1. bagus ulan. tapi kok agak gak nyambung sama judulnya. aku kira itu bakalan jadi cerita tentang perjuangan/pengorbanan. eh kok endingnya gitu :)

    BalasHapus
  2. bagus ulan ceritanya , tapi awalnya sedikit bingung dengan judulnya

    BalasHapus
  3. Keren lan saya suka cerpen puisi dan pantunnya :D

    BalasHapus
  4. Ntah kenapa waktu aku baca cerpennya bawaannya kayak baca puisi
    tapi keren lan ceritanya

    BalasHapus
  5. bagus lan, bener kata Ika endingnya gak nyambung

    BalasHapus
  6. pemilihan katanya bagus lan, cman antara judul sama alurnya kurang nyambung sedikit

    BalasHapus