Welcome


widgeo.net

Kamis, 25 September 2014

Antara Teknologi, Remaja dan Bangsa



Berbicara tentang perkembangan teknologi, maka tidak akan lepas dari gadget. Seperti yang kita ketahui, tertera jelas dalam Wikipedia bahwa teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Tetapi pada saat ini pengertian teknologi hampir dilupakan oleh pemakainya. Teknologi digunakan bukan hanya untuk kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia tetapi untuk kepuasan.

Contohnya adalah teknologi yang seharusnya digunakan untuk mencari informasi, media sosialisasi dan komunikasi disalah gunakan. Para remaja menggunakan teknologi internet untuk mengunggah video-video dan foto yang bernilai pornografi dan melanggar norma. Padahal sudah kita ketahui bahwa tindakan tersebut akan merusak diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

Perkembangan teknologi di era sekarang ini sangat pesat. Berbagai gadget  keluaran terbaru pun terus berkembang. Hal ini menjadi pengaruh besar terhadap remaja Indonesia. Dengan kecanggihan gadget  yang dimiliki dapat menyebabkan kurang terjalinnya komunikasi secara langsung dengan teman sebaya, orang tua, maupun orang-orang di sekitarnya karena terlalu asyik memainkan gadget yang ia punya.

Kehadiran teknologi di lingkup kehidupan sehari-hari menjadikan kita lupa diri. Anak-anak zaman sekarang bahkan melupakan permainan tradisional seperti permainan karet, guli dan lainnya. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena perkembangan teknologi. Anak-anak lebih suka memainkan permainan yang ada di laptop, handphone dan tablet. Lalu, bagaimana nasib permainan tradisional tersebut? Ya, mereka lenyap dimakan zaman.

Selain itu kehadiran teknologi yang begitu pesat menjadikan para remaja menjadi malas untuk berpikir, memperkecil waktu bertemunya remaja dengan buku, karena mereka terlalu mengandalkan teknologi yang ada. Ketika ada tugas dari guru para remaja dengan mudahnya dapat mengakses tugas tersebut dari internet, bahkan tak jarang ketika ujian sedang berlangsung mereka mengandalkan internet sebagai “dewa penolong”. Bagaimana nasib bangsa ini ke depannya, jika setiap remaja bersikap seperti ini. Bukankah nasib bangsa Indonesia ada di tangan remaja Indonesia?

Dari berbagai sisi negatif perkembangan teknologi terutama gadget, tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi juga memiliki banyak sisi positif. Teknologi sebagai sarana untuk mempermudah dan mempercepat akses informasi yang kita butuhkan, dengan adanya teknologi para remaja dapat mengakses berbagai informasi melalui gadget kapanpun dan di manapun.

Hal lain yang menjadi nilai positif atas perkembangan teknologi yaitu dengan teknologi para remaja semakin lebih mudah berinteraksi satu sama lain bukan hanya melalui handphone tetapi juga melalui internet.

Mengikuti perkembangan teknologi boleh-boleh saja, asalkan itu menjadi motivasi dan penyemangat untuk tetap berkarya dan berprestasi. Semua keputusan ada di tangan kita sendiri. Tergantung bagaimana kita mengambil sisi positif dan membuang jauh pengaruh negatif dari perkembangan teknologi itu sendiri. Jangan sampai justru menjadi bumerang bagi kita maupun bagi bangsa Indonesia.

Kelompok 4
  • Ayu Rizky Amalia
  • Nur Wulandari
  • Rumeilya Batami
  • Ulina Tesalonika


Senin, 01 September 2014

Seberkas Asa

       Di keremangan senja, tubuhku masih berbalut selimut. Udara di luar rumah terasa menggigit kulit. Mungkin karena aku membiarkan sepasang daun jendela di kamarku terbuka. Ibuku sudah berisik di dapur. Aku meilirik sebuah jam di meja. Sudah pukul lima pagi rupanya.

       Aku beringsut ke kamar mandi. Bersiap berangkat ke sekolah. Hari ini, senin pagi. Rintik-rintik dari awan menghalangi kami untuk upacara bendera nampaknya. Segera aku selesaikan mandiku dan bergegas shalat subuh.
       
       Seusai shalat, rasanya jiwaku tenteram sekali. Semangatku bangkit, aku segera menghampiri ayah untuk mengantarku ke sekolah. Seperti biasa, beliau tiap hari mengantarkan aku ke sekolah dengan motornya yang sudah cukup berusai. Beliau selalu berpesan agar aku focus belajar di kelas XII ini dan mendapatkan nilai terbaik.

       Singkat cerita, setelah seharian menimba ilmu di sekolah. Aku tiba di rumah, lalu membereskan pekerjaan rumah yang menumpuk. Tiba-tiba telepon genggamku bordering. Tertera nama seorang teman lelakiku. Dia mengantakan hendak berkunjung ke rumahku.

       Sejam kemudian, terdengar suara kendaraan bermotor di depan rumahku. Ternyata dia sudah berdiri tepat di depan pintu dan akupun segera membukakannya. Kami kemudian berbincang-bincang. Ada satu hal yang sangat mengejutkanku.

       Tiba-tiba saja, dia menatapku lekat-lekat. Dia menggenggam kedua tanganku. Suasana sangat hening. Bibirnya yang kelu membuatnya terbata-bata untuk bicara. Dia mengatakan bahwa dia menyukaiku. Dia menyayangiku sangat tulus, ungkapnya.

       Aku diam terpaku seribu bahasa. Hatiku diam, bingung mau menjawab apa. Aku ‘tak menyangka dia menganggap cukup jauh mengenai kedekatan kami beberapa waktu belakangan ini. Memang, akhir-akhir ini kami cukup sering berkomunikasi. Kami bercanda ria serta sharing  berbagai cerita yang menghiasi hari-hari kami.

       Tetapi tetap saja, aku ‘tak menganggap hal itu sebagai kedekatan yang lebih dari pertemanan. Aku lebih senang jika dia dan aku berteman baik. Lalu ‘ku tarik nafas dalam-dalam. Akupun melepaskan genggamannya.

      Aku menatapnya lirih, dengan sangat merasa bersalah ku ucapkan, “maafkan aku, sepertinya kita belum pantas untuk lebih dari sekedar teman”, jawabku lirih. Matanya sayu, menyimpan airmata yang tertahan gengsi. Lalu dia bergegas pergi dan meninggalkanku.


Pantun Cik Puan


Masak nasi di dapur baru
Masaknya dengan riang gembira
Duhai kamu kekasih baru
Menawan hati jadi bahagia

     Makan prasmanan di sisi tengah pelaminan
     Tersedak pula potongan kentang
     Kamu datang bawa kesedihan
     Hilangkan gembira, duka meradang

Asah pisau si pisau belati
Asahnya dengan asahan batu
jika hati telah mati
Kelak perasaan akan membatu

     Mandi di kali jumpa bidadari
     Ambil sebuah selendang biru
     Jika tuan pandai menari
     Mari larut dalam tarian rindu


Nur Wulandari