Dini hari pukul dua
Soekarno duduk di serambi rumah
Teringat rakyat penuh derita
Untuk berbajupun mereka tak punya
Desakan kaum muda mendera
Menggelora, gemuruh semangat hendak merdeka
Sudah lelah 'ku lihat tumpah darah
Membumihanguskan ribuan koloni Belanda
Sampai kapan?
Sampai kapan aku Dini hari pukul dua
Soekarno duduk di serambi rumah
Teringat rakyat penuh derita
Untuk berbajupun mereka tak punya
Desakan kaum muda mendera
Menggelora, gemuruh semangat hendak merdeka
Sudah lelah 'ku lihat tumpah darah
Membumihanguskan ribuan koloni Belanda
Sampai kapan?
Sampai kapan aku tega?
Memandang lirih, menyembunyikan tangis
Atas tiap-tiap pengorbanan jiwa-jiwa sang pahlawan
Asanya berkobar, namun padam dihantam tembakan
Tiap-tiap senjata, menghancurkan ribuan tubuh
Tangan kaki mereka putus, darasnya deras menetes
Kapan hendak merdeka?
Tubuhku semakin ringkih dimakan usia
Janjiku, sebelum Indonesia merebut kemerdekaannya
Tak sedetikpun 'ku sia-siakan
Tak sejengkalpun 'ku lepaskan
Negaraku, bangsaku, merdekalah!
Batam, sembilan belas agustus 2014
Nur Wulandari

bagus Lan. tinggal dirapikan aja
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusBagus sekali, banyak diksinya
BalasHapusHanya ada sedikit salah ketik
Dini tertulis tDini lan
Terima kasih sarannya Bima. Sudah saya perbaiki typo-nya.
HapusBagus Lan, kamu ahli dalam puisi sepertinya
BalasHapusTerima kasih marintan :)
HapusBagus sekali puisinya. Hebat.
BalasHapusTerima kasih Juni :)
Hapusbagus banget puisinyaaa..
BalasHapusPilihan katanya bgus lan puisinya :)
BalasHapusgood ,kreatif banget ulan, pinter banget bikin puisi
BalasHapusemang berbakat lan buat puisi :)
BalasHapusbagus lan puisinya
BalasHapusbujubuset bagus wak
BalasHapus