Welcome


widgeo.net

Senin, 03 November 2014

Ini Sedikit Tentang Kamu

Kamu indah; 
 seperti bunga yang baru saja mekar
seperti pelangi yang melingkar awan
seperti buihbuih ombak saat gelombang menerjang karang

Kamu menawan;
ya, sesekali tampak  sangat menawan di antara ribuan bintang
seperti halilintar yang menyambar, engkau datang mengejutkan
seperti api yang berkobar, sulit dipadamkan

Kamu gila;
ya, kadang rasioku tak mampu menalarkan tingkahmu 
seperti keran air, tibatiba rusak lalu meledak
seperti darah yang hadir saat sayatan melukai, deras mengalir

Kamu lucu;
ya, kadang sangat lucu hingga gelak tawa menyeringai di wajahku
seperti seorang gadis manis, pendiam namun menyimpan
banyak cerita sekedar menghapus duka 

ya, itu sedikit tentang kamu
kamu yang terkasih
serta sangat kucintai 



Pelepah sajak
Nurwulandari, 23 Juni 2014  

"Aku bertugas menemanimu hingga kamu meraih kesuksesanmu. Lalu,  tugasmu menentukan akan bersama dengan siapa kamu nikmati suksesmu itu" 

Rabu, 29 Oktober 2014

RESENSI FILM CINTA SUCI ZAHRANA

Judul Film      : Cinta Suci Zahrana
Sutradara       : Chaerul Umam
Penulis            : Habiburrahman El Shirazy
Pemeran   : Meyda Sefira, Miller Khan, dan Kholidi Asadil 
Produksi         : SinemArt Pictures, Jakarta, 2012
Jenis Film       : Drama
            Cinta Suci Zahrana adalah sebuah film Indonesia tahun 2012 yang merupakan interpretasi dari novel Best Seller karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul yang sama. Film ini merupakan film ke-3 yang ditulis langsung oleh Habiburrahman El Shirazy. Versi novel film ini, sangat menarik sehingga SinemArt Pictures bersedia memfilmkan novel ini. Poster film ini menonjolkan tiga tokoh utama yaitu Zahrana (Meyda Sefira), Hasan (Miller Khan), dan Rahmad (Kholidi Asadil Alam).
            Alur ceritanya bermula dari seorang gadis bernama Zahrana (Meyda Sefira) yang mendunia karena karya tulisnya dimuat di jurnal ilmiah RMIT Melbourne. Lalu dia menerima penghargaan dari Thinghua University, yaitu sebuah universitas ternama di Cina. Lalu ia terbang ke Cina untuk menyampaikan orasi ilmiahnya di hadapan puluhan professor arsitek kelas dunia. Ia memaparkan arsitektur bertemakan budaya yakni arsitektur model kerajaan Jawa-Islam zaman dahulu.
            Dari Thinghua University, ia mendapatkan tawaran pengerjaan sebuah proyek besar dan beasiswa untuk S3. Di balik kegemilangan prestasi akademiknya, kedua orang tua Zahrana (Meyda Sefira) sangat mencemaskan kondisi anak gadisnya yang belum menikah di usia yang sudah memasuki kepala tiga. Sebenarnya sudah banyak lelaki yang mencoba meminangnya, namun ia tolak secara halus. Salah satunya ia pernah dipinang oleh atasannya bekerja di sebuah kampus dan ditolaknya secara halus.
            Pada akhir cerita, Zahrana dipinang oleh Hasan yang masih berumur dua puluhan, sehingga menimbulkan keraguan di dalam hati Zahrana. Namun, keraguan itu segera ditepis Hasan dengan menikahinya sesegera mungkin agar mereka bisa hidup bahagia. Orang tua Zahrana yang sudah menantikan pernikahan anaknya pun merestui pernikahan mereka. Beberapa hari kemudian, mereka segera melangsungkan akad nikah dan resepsi pernikahan.
            Film Cinta Suci Zahrana ini merupakan salah satu film yang layak untuk ditonton. Bagian akhir cerita yang tidak terduga mampu menjadi magnet khusus yang membuat penonton akan semakin penasaran. Kualitas akting para pemainnya pun diramu sangat apik. Mereka mampu memerankan tiap tokoh sesuai karakternya masing-masing.
Pesan moral dan agama yang terkandung di dalam film ini terhitung sangat banyak. Salah satu pesan moral yang terkandung adalah sudah sepatutnya wanita harus tetap menjaga harga dirinya meskipun dicemooh oleh orang lain. Sifat Zahrana yang tegar, berpendidikan tinggi, dan berpikiran terbuka juga bisa kita teladani. Berbedanya pola piker antara orang tua dengan sang anak juga merupakan salah satu konflik yang sering terjadi di masyarakat. Namun, Zahrana mampu melunakan suasana dengan mendengarkan nasihat dari kedua orang tuanya.

RESENSI NOVEL SOBAT JANGAN LUPAKAN AKU!

RESENSI NOVEL
Judul                          : Sobat Jangan Lupakan Aku!
Pengarang                  : Camille Noe Pagan
Penerbit                      : PT Pustaka Alvabet
Tahun                         : 2012, Cetakan I
Novel karya Camille Noe Pagan dengan tebal 370 halaman ini merupakan novel terjemahan yang diterjemahkan oleh Dewi Wulansari. Ceritanya sangat menarik dan penuh konflik. Camille Noe Pagan menulis novel ini setelah melakukan penelitian mengenai wanita muda dan cedera otak yang dimuat di majalah tempat ia bekerja. Gagasan-gagasan baru pun muncul di pikirannya, lalu ia mulai menulis setiap malam setelah putrinya tertidur. Novel ini mampu dikerjakannya dalam waktu empat bulan.
Marissa Rogers dan Julia telah bersahabat karib sejak kecil. Marissa adalah seorang yang cerdas dan pendiam. Ia juga sosok yang pemalu karena masalah berat badannya yang berlebihan. Sedangkan Julia adalah wanita dengan paras cantik, karismatik, dan posesif. Dia adalah sosok yang pengertian dan baik hati.
Mereka berdua dipertemukan di SMA terkenal yaitu Kennedy High School  di kota Ann Arbor. Pada saat itu Marissa baru saja pindah. Di sekolahnya dahulu ia selalu diejek oleh temannya karena masalah berat badan. Pada awalnya ia menyesali keputusannya untuk pindah, sebab keadaan di sekoalah barunya tak jauh berbeda dengan sekolahnya dahulu. Tak ada satu orang pun yang mau memperdulikannya.
Namun di suatu siang, seorang gadis cantik memanggilnya. Seakan –akan tidak percaya, ia menoleh beberapa kali. Ia baru mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah gadis cantik bernama Julia. Sejak saat itu mereka menjadi sahabat yang tidak terpisahkan. Setelah lulus dari SMA, Julia melanjutkan kuliah di Oberlin. Sedangkan Marissa kuliah di Universitas Michigan.
            Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran. Walaupun demikian, alurnya mampu membawa pembaca untuk setia menelusuri tiap-tiap bagian cerita. Cara pengarang menggambarkan tokoh-tokoh dalam cerita ini cukup unik. Tokoh Marissa digambarkan sebagai orang modern yang mandiri, pemalu, namun cerdas. Julia digambarkan sebagai orang karismatik, posesif, haus kasih sayang, dan berobsesi tinggi.
Dave digambarkan sebagai seorang pengacara yang pekerja keras, namun berorientasi ke depan. Nathan digambarkan sebagai pemilik kedai kopi yang sederhana namun mampu memikat hati Marissa.  Gaya bahasa yang dipergunakan merupakan gaya bahasa baru. Pengarang banyak memilih diksi yang kuat dan tinggi dan diselipkan berbagai istilah kesehatan.
Di dalam karyanya, pengarang mampu membuat pembaca bertanya-tanya maksud dari setiap frasa kalimat yang digunakan. Sehingga pembaca diajak untuk semakin mendalami alur cerita dari novel ini. Para tokoh yang diceritakan oleh pengarang masing-masing mempunyai karakter yang kuat. Dalam menceritakannya, pengarang melukiskan perasaan dan pemikirannya yang hebat.
Novel ini banyak mengandung amanat yang bisa menginspirasi pembacanya. Pengarang mengajarkan kita untuk menghargai tali persahabatan yang sudah kita bangun. Menjadi pribadi yang konsisten dan berani menerima setiap konsekuensi dari keputusan yang kita ambil, merupakan salah satu amanat yang hendak disampaikan pengarang. Satu hal yang cukup menarik dari novel ini adalah pembaca ditantang mencerna tiap bagian alur yang ada karena penerjemah sangat apik memadupadankan pilihan kata untuk membangun suasana yang memikat hati.
Namun dengan segala keindahan dan kelebihannya, novel ini cukup menyulitkan untuk dibaca bagi para pemula penyuka karya sastra karena perlu dicerna dengan benar. Penggunaan istilah-istilah yang asing di telinga sepertinya akan membuat pembaca agak berat untuk membaca novel ini. Pemilihan desain cover  yang kurang menarik juga merupakan salah satu kekurangan novel ini.


PENGGUNAAN MAJAS DI DALAM KARYA SASTRA


1)      Majas Asosiasi
·         Laksana air yang jatuh dari air terjun, pasrah saja dan nikmati takdirnya.
·         Hatinya bagai kertas putih yang baru akan dipakai.
2)      Majas Metafora
·         Panasnya raja siang hari ini.
·         Sang pelita malam sudah menampakkan dirinya.
3)      Majas Personifikasi
·         Malam ini awan menangis.
·         Kabut tebal menyelimuti para pendaki gunung Kidul.
4)      Metonimia
·         Shinta membeli faber castell untuk ujian nanti.
·         Amalia sarapan dengan indomie pagi ini.
5)      Ironi
·         Ia seorang professor yang handal, saking pintarnya, aku sampai tidak mengerti satu hal pun yang ia jelaskan di kelas tadi.
·         Duh manisnya kopi ini, sampai aku lupa bagaimana rasanya gula.
6)      Pleonasme
·         Salju putih itu sudah mulai turun ke bawah.
·         Mari naik ke atas agar dapat meliahat pemandangan.
7)      Repetisi
·         Selamat tinggal pacarku, selamat tinggal kekasihku, selamat tinggal belahan jiwaku.
·         Cinta adalah kebahagiaan, cinta adalah keindahan, cinta adalah pengorbanan.
8)      Paralelisme
·         Hati ini biru
Hati ini lagu
Hati ini debu
·         Kalau kau mau, aku akan datang. Jika kau berkenan, aku akan datang. Bila kau minta, aku akan datang.
9)      Hiperbola
·         Amalia berlari secepat kilat ke kantin karena kelaparan.
·         Suaranya merdu sekali hingga terdengar sampai ke luar angkasa.
10)  Litotes
·         Kalau boleh ikutlah bersama kami dengan mobil tua ini.

·         Ini hadiah yang tak ada artinya mohon diterima.

Kamis, 25 September 2014

Antara Teknologi, Remaja dan Bangsa



Berbicara tentang perkembangan teknologi, maka tidak akan lepas dari gadget. Seperti yang kita ketahui, tertera jelas dalam Wikipedia bahwa teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Tetapi pada saat ini pengertian teknologi hampir dilupakan oleh pemakainya. Teknologi digunakan bukan hanya untuk kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia tetapi untuk kepuasan.

Contohnya adalah teknologi yang seharusnya digunakan untuk mencari informasi, media sosialisasi dan komunikasi disalah gunakan. Para remaja menggunakan teknologi internet untuk mengunggah video-video dan foto yang bernilai pornografi dan melanggar norma. Padahal sudah kita ketahui bahwa tindakan tersebut akan merusak diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

Perkembangan teknologi di era sekarang ini sangat pesat. Berbagai gadget  keluaran terbaru pun terus berkembang. Hal ini menjadi pengaruh besar terhadap remaja Indonesia. Dengan kecanggihan gadget  yang dimiliki dapat menyebabkan kurang terjalinnya komunikasi secara langsung dengan teman sebaya, orang tua, maupun orang-orang di sekitarnya karena terlalu asyik memainkan gadget yang ia punya.

Kehadiran teknologi di lingkup kehidupan sehari-hari menjadikan kita lupa diri. Anak-anak zaman sekarang bahkan melupakan permainan tradisional seperti permainan karet, guli dan lainnya. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena perkembangan teknologi. Anak-anak lebih suka memainkan permainan yang ada di laptop, handphone dan tablet. Lalu, bagaimana nasib permainan tradisional tersebut? Ya, mereka lenyap dimakan zaman.

Selain itu kehadiran teknologi yang begitu pesat menjadikan para remaja menjadi malas untuk berpikir, memperkecil waktu bertemunya remaja dengan buku, karena mereka terlalu mengandalkan teknologi yang ada. Ketika ada tugas dari guru para remaja dengan mudahnya dapat mengakses tugas tersebut dari internet, bahkan tak jarang ketika ujian sedang berlangsung mereka mengandalkan internet sebagai “dewa penolong”. Bagaimana nasib bangsa ini ke depannya, jika setiap remaja bersikap seperti ini. Bukankah nasib bangsa Indonesia ada di tangan remaja Indonesia?

Dari berbagai sisi negatif perkembangan teknologi terutama gadget, tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi juga memiliki banyak sisi positif. Teknologi sebagai sarana untuk mempermudah dan mempercepat akses informasi yang kita butuhkan, dengan adanya teknologi para remaja dapat mengakses berbagai informasi melalui gadget kapanpun dan di manapun.

Hal lain yang menjadi nilai positif atas perkembangan teknologi yaitu dengan teknologi para remaja semakin lebih mudah berinteraksi satu sama lain bukan hanya melalui handphone tetapi juga melalui internet.

Mengikuti perkembangan teknologi boleh-boleh saja, asalkan itu menjadi motivasi dan penyemangat untuk tetap berkarya dan berprestasi. Semua keputusan ada di tangan kita sendiri. Tergantung bagaimana kita mengambil sisi positif dan membuang jauh pengaruh negatif dari perkembangan teknologi itu sendiri. Jangan sampai justru menjadi bumerang bagi kita maupun bagi bangsa Indonesia.

Kelompok 4
  • Ayu Rizky Amalia
  • Nur Wulandari
  • Rumeilya Batami
  • Ulina Tesalonika


Senin, 01 September 2014

Seberkas Asa

       Di keremangan senja, tubuhku masih berbalut selimut. Udara di luar rumah terasa menggigit kulit. Mungkin karena aku membiarkan sepasang daun jendela di kamarku terbuka. Ibuku sudah berisik di dapur. Aku meilirik sebuah jam di meja. Sudah pukul lima pagi rupanya.

       Aku beringsut ke kamar mandi. Bersiap berangkat ke sekolah. Hari ini, senin pagi. Rintik-rintik dari awan menghalangi kami untuk upacara bendera nampaknya. Segera aku selesaikan mandiku dan bergegas shalat subuh.
       
       Seusai shalat, rasanya jiwaku tenteram sekali. Semangatku bangkit, aku segera menghampiri ayah untuk mengantarku ke sekolah. Seperti biasa, beliau tiap hari mengantarkan aku ke sekolah dengan motornya yang sudah cukup berusai. Beliau selalu berpesan agar aku focus belajar di kelas XII ini dan mendapatkan nilai terbaik.

       Singkat cerita, setelah seharian menimba ilmu di sekolah. Aku tiba di rumah, lalu membereskan pekerjaan rumah yang menumpuk. Tiba-tiba telepon genggamku bordering. Tertera nama seorang teman lelakiku. Dia mengantakan hendak berkunjung ke rumahku.

       Sejam kemudian, terdengar suara kendaraan bermotor di depan rumahku. Ternyata dia sudah berdiri tepat di depan pintu dan akupun segera membukakannya. Kami kemudian berbincang-bincang. Ada satu hal yang sangat mengejutkanku.

       Tiba-tiba saja, dia menatapku lekat-lekat. Dia menggenggam kedua tanganku. Suasana sangat hening. Bibirnya yang kelu membuatnya terbata-bata untuk bicara. Dia mengatakan bahwa dia menyukaiku. Dia menyayangiku sangat tulus, ungkapnya.

       Aku diam terpaku seribu bahasa. Hatiku diam, bingung mau menjawab apa. Aku ‘tak menyangka dia menganggap cukup jauh mengenai kedekatan kami beberapa waktu belakangan ini. Memang, akhir-akhir ini kami cukup sering berkomunikasi. Kami bercanda ria serta sharing  berbagai cerita yang menghiasi hari-hari kami.

       Tetapi tetap saja, aku ‘tak menganggap hal itu sebagai kedekatan yang lebih dari pertemanan. Aku lebih senang jika dia dan aku berteman baik. Lalu ‘ku tarik nafas dalam-dalam. Akupun melepaskan genggamannya.

      Aku menatapnya lirih, dengan sangat merasa bersalah ku ucapkan, “maafkan aku, sepertinya kita belum pantas untuk lebih dari sekedar teman”, jawabku lirih. Matanya sayu, menyimpan airmata yang tertahan gengsi. Lalu dia bergegas pergi dan meninggalkanku.